Jurnalis cilik merupakan wadah pengembangan bakat literasi yang melatih siswa mengolah warta, mewawancarai narasumber, serta menyusun artikel berita. Pelatihan jurnalis cilik membekali peserta didik dengan pemahaman kode etik jurnalistik dasar, seperti verifikasi fakta dan penggunaan bahasa positif. Siswa diajarkan cara mengamati kejadian menarik di sekitar sekolah kemudian mengemasnya menjadi tulisan berita yang edukatif. Keterampilan ini membentuk ketaatan anak pada fakta serta meningkatkan daya kritis dalam menyaring berita bohong.
Jurnalis cilik bertugas mengelola buletin sekolah dan majalah dinding sebagai media informasi resmi yang menghubungkan siswa, guru, dan alumni. Kehadiran jurnalis cilik mendokumentasikan berbagai momen penting kegiatan sekolah melalui liputan foto dan artikel wawancara yang menarik. Proses penyuntingan naskah dan tata letak cetak dikerjakan secara kolaboratif bersama tim pembina pers sekolah. Melalui aktivitas pers ini, kemampuan tata bahasa dan kosakata para siswa berkembang dengan sangat pesat.
Pena emas para jurnalis sekolah juga aktif mengabadikan momen momen bersejarah sekolah seperti pelepasan alumni yang penuh haru dan kebanggaan. Dokumentasi mengenai suasana perpisahan dapat dilihat pada kegiatan pelepasan siswa kelas akhir smpn 1 jember yang menyajikan liputan momen berkesan bagi para wisudawan. Rekaman peristiwa bersejarah ini menjadi kenangan manis yang tersimpan rapi dalam buletin sekolah.
Pemanfaatan media digital serta penerbitan buletin daring turut diajarkan agar karya jurnalistik siswa dapat diakses oleh khalayak luas. Pelatihan fotografi jurnalistik melengkapi keterampilan teknis anak dalam menghasilkan karya gambar yang berbobot cerita. Diskusi kritis mengenai isu-isu pendidikan terkini secara rutin digelar dalam sesi rapat redaksi buletin sekolah. Pengalaman jurnalistik ini memberikan fondasi keahlian komunikasi publik yang sangat berharga.
Program pembinaan jurnalis muda ini akan terus dipelihara sebagai ajang penyaluran minat literasi dan pengembangan wawasan siswa. Generasi yang mahir menulis adalah generasi yang mampu menggerakkan kemajuan bangsa melalui pemikiran-pemikiran positif. Budaya membaca dan menulis akan terus menjadi pilar utama keunggulan sekolah.