Dalam beberapa dekade terakhir, industri konstruksi terus mencari alternatif bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan guna mengurangi jejak karbon yang dihasilkan oleh produksi semen konvensional. Inovasi yang mengejutkan justru lahir dari tangan-tangan kreatif di SMPN 1 Jember. Para siswa di sekolah ini memanfaatkan potensi jamur, khususnya bagian struktur vegetatifnya yang disebut miselium, untuk menciptakan material bangunan masa depan. Melalui proyek penelitian yang intensif, mereka berhasil mengembangkan konsep Miselium sebagai Perekat alami untuk menyatukan limbah pertanian menjadi sebuah struktur padat yang dikenal sebagai bata organik.
Proses pembuatan material inovatif ini memanfaatkan limbah domestik yang melimpah di wilayah Jember, seperti serbuk gergaji dan ampas tebu. Siswa belajar bahwa miselium memiliki kemampuan unik untuk tumbuh dan menjalar di sela-sela serat limbah tersebut, bertindak sebagai lem biologis yang sangat kuat. Dalam kurun waktu beberapa minggu, jaringan jamur ini akan mengonsumsi nutrisi dari limbah dan membentuk jalinan matriks yang kokoh. Setelah proses pertumbuhan selesai, material tersebut dipanaskan untuk menghentikan aktivitas biologisnya, sehingga menghasilkan Bata Organik yang ringan, tahan api, dan memiliki kemampuan isolasi termal yang sangat baik.
Eksperimen yang dilakukan di lingkungan SMPN 1 Jember ini memberikan pengalaman belajar yang melampaui teori biologi di dalam buku teks. Siswa diajak untuk memahami siklus hidup fungi dan peranannya dalam dekomposisi material. Mereka juga harus melakukan uji ketahanan tekan terhadap bata yang mereka buat untuk memastikan kekuatannya mampu menopang beban tertentu. Fokus utama dari riset ini adalah membuktikan bahwa limbah organik tidak harus berakhir di tempat pembuangan sampah, tetapi bisa bertransformasi menjadi aset berharga melalui sentuhan bioteknologi sederhana.
Keterlibatan para siswa dalam proyek Miselium ini juga membuka wawasan mereka mengenai konsep ekonomi sirkular. Mereka menyadari bahwa alam telah menyediakan solusi bagi masalah polusi bangunan. Jika semen konvensional menyumbang emisi gas rumah kaca yang besar dalam proses produksinya, bata berbasis jamur ini justru bersifat karbon-negatif karena selama masa pertumbuhannya, jamur tersebut membantu mengikat karbon. Hal ini menempatkan siswa Jember sebagai inovator muda yang peduli pada isu perubahan iklim global melalui tindakan nyata di tingkat lokal.