Perjalanan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah fase kritis di mana siswa dituntut untuk bertransisi dari penerima informasi pasif menjadi pembelajar mandiri. Keberhasilan dalam jenjang pendidikan yang lebih tinggi sangat ditentukan oleh kemampuan siswa Menghindari Ketergantungan Guru dan mengambil alih tanggung jawab atas proses belajar mereka sendiri. Menghindari Ketergantungan Guru bukan berarti menolak bimbingan, tetapi mengembangkan inisiatif untuk mencari solusi, mengeksplorasi materi, dan memecahkan masalah secara independen. Sikap proaktif ini adalah inti dari tanggung jawab akademik yang harus ditanamkan sejak dini.
Salah satu langkah praktis dalam Menghindari Ketergantungan Guru adalah dengan mengubah cara siswa berinteraksi dengan tugas dan masalah yang dihadapi. Daripada langsung bertanya kepada guru atau orang tua saat menemui kesulitan, siswa harus didorong untuk mencoba mencari jawaban sendiri terlebih dahulu menggunakan minimal tiga sumber belajar yang berbeda—misalnya, buku paket, catatan, dan sumber daring tepercaya. Barulah setelah semua upaya eksplorasi mandiri dilakukan dan menemui jalan buntu, siswa dapat mengajukan pertanyaan, namun dengan pertanyaan yang terstruktur (misalnya: “Saya sudah mencoba langkah A dan B, tetapi hasilnya salah. Apakah saya salah di bagian asumsi konsep X?”).
Pola pikir “guru adalah fasilitator” adalah kunci. Di SMP, guru mulai memberikan tugas berbasis proyek yang menuntut riset dan kolaborasi, memaksa siswa untuk mengelola waktu dan sumber daya mereka sendiri. Proyek-proyek ini seringkali tidak memiliki satu jawaban benar tunggal, melainkan penilaian didasarkan pada proses, kedalaman analisis, dan presentasi temuan. Misalnya, dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang diadakan pada hari Rabu, 19 Maret 2025, siswa SMP “Bakti Negara” ditugaskan untuk merancang solusi masalah sampah plastik di lingkungan sekolah, menuntut mereka untuk melakukan survei, menganalisis data (numerasi), dan menyusun proposal solusi tanpa instruksi langkah demi langkah dari guru.
Selain itu, manajemen diri adalah penentu utama. Siswa yang bertanggung jawab akademik mampu menyusun jadwal belajar rutin, mengelola waktu luang dan belajar secara seimbang, serta proaktif dalam mengulang materi tanpa perlu diminta. Mereka melihat kesalahan sebagai peluang belajar, bukan sebagai kegagalan yang harus ditutupi. Dengan demikian, tugas guru dan orang tua adalah menciptakan lingkungan yang aman untuk bereksperimen dan membuat kesalahan, sambil secara konsisten memberikan dorongan untuk Menghindari Ketergantungan Guru dan membangun kemandirian.