Kelalaian Edukasi terhadap kesusastraan di Indonesia telah meninggalkan jejak panjang dalam pembentukan karakter dan daya kritis generasi muda. Meskipun memiliki potensi besar untuk menumbuhkan empati dan pemahaman mendalam tentang kemanusiaan, sastra seringkali terpinggirkan dalam kurikulum. Artikel ini akan menelusuri bagaimana Kelalaian Edukasi ini terjadi di masa lalu dan dampaknya yang perlu menjadi perhatian bersama.
Secara historis, posisi sastra dalam sistem pendidikan Indonesia kerap kali menjadi pelengkap, bukan inti. Pelajaran bahasa Indonesia lebih banyak fokus pada tata bahasa, ejaan, dan keterampilan menulis fungsional, sementara apresiasi sastra seringkali hanya disentuh secara dangkal. Karya-karya sastra besar, baik klasik maupun modern, kurang mendapatkan porsi yang memadai untuk dikaji secara mendalam. Akibatnya, banyak siswa lulus tanpa memiliki pemahaman yang kuat tentang kekayaan sastra bangsanya sendiri, apalagi sastra dunia.
Kelalaian Edukasi ini memiliki konsekuensi serius. Sastra bukan sekadar kumpulan cerita atau puisi; ia adalah cerminan masyarakat, sejarah, dan pemikiran manusia. Melalui sastra, siswa dapat belajar memahami beragam perspektif, merasakan emosi karakter, dan mengembangkan daya kritis terhadap berbagai isu. Ketika sastra diabaikan, kita kehilangan salah satu instrumen paling efektif untuk membentuk individu yang berempati, reflektif, dan memiliki kedalaman batin.
Salah satu penyebab Kelalaian Edukasi ini mungkin adalah anggapan bahwa sastra adalah mata pelajaran yang “kurang praktis” dibandingkan dengan ilmu eksakta atau keterampilan yang langsung berhubungan dengan dunia kerja. Kurikulum yang padat dan tuntutan ujian yang berorientasi pada hafalan semakin mempersempit ruang bagi eksplorasi sastra yang lebih bebas dan kreatif. Guru-guru bahasa Indonesia pun terkadang tidak memiliki waktu atau sumber daya yang cukup untuk mengembangkan metode pengajaran sastra yang menarik dan mendalam.
Namun, angin perubahan mulai berhembus. Kesadaran akan pentingnya sastra kembali menguat, terutama dengan adanya inisiatif seperti program “Sastra Masuk Kurikulum” di bawah payung Merdeka Belajar. Contoh konkret dari upaya ini terlihat pada workshop peningkatan kompetensi guru bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, pada hari Jumat, 7 Juni 2024, pukul 08.00 WIB, di Ruang Serbaguna Pusdiklat Kemendikbud, Jakarta. Workshop tersebut dihadiri oleh ratusan guru dari berbagai daerah dan dipimpin oleh Bapak Dr. Budi Setiawan, seorang pakar literasi.
Melalui upaya ini, diharapkan Kelalaian Edukasi terhadap sastra dapat diperbaiki. Sastra harus mendapatkan tempat yang semestinya sebagai bagian integral dari pendidikan yang holistik, membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya secara emosional dan memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ini adalah langkah penting untuk memastikan generasi mendatang memiliki fondasi yang kuat dalam memahami dunia dan diri mereka sendiri.